'
::: SELAMAT HARI BUKU SEDUNIA : JIKA PENDIDIKAN KEWAJIBAN SEPANJANG ZAMAN, MAKA BUKU MERUPAKAN KARYA WARISAN TAK TERMAKAN ZAMAN :::
SELAMAT HARI BUKU SEDUNIA :::TPP BERDEDIKASI UNTUK NEGERI
Depan » » Juwairiyah binti al-Harits bin Abu Dhirar

Juwairiyah binti al-Harits bin Abu Dhirar

Juwairiyah binti al-Harits (Wafat 56 H) dikenal sebagai istri Rasulullah SAW yang paling membawa keberuntungan bagi sukunya. Aisyah r.a. bahkan pernah memuji beliau dengan mengatakan bahwa tidak ada wanita yang lebih besar berkahnya bagi kaumnya selain Juwairiyah. Berkat pernikahan beliau dengan Nabi, seluruh anggota sukunya, Banil-Musthaliq, akhirnya memeluk Islam.

1. Latar Belakang dan Masa Muda

Juwairiyah lahir sekitar 14 tahun sebelum peristiwa Hijrah. Beliau adalah putri dari al-Harits bin Abi Dhiraar, pemimpin Banil-Musthaliq yang sangat disegani namun awalnya sangat memusuhi Islam. Tumbuh di lingkungan bangsawan, Juwairiyah dikenal sebagai gadis yang cantik, cerdas, dan memiliki budi pekerti yang luhur. Sebelum memeluk Islam, beliau bernama Burrah dan merupakan istri dari Musafi’ bin Shafwan.

2. Peristiwa Perang dan Menjadi Tawanan

Konflik bermula ketika al-Harits berencana menyerang kaum muslimin demi ambisi kekuasaan. Namun, Rasulullah SAW bergerak lebih cepat dengan melakukan serangan mendahului. Dalam pertempuran tersebut, pasukan muslim menang; suami Juwairiyah gugur, al-Harits melarikan diri, dan Juwairiyah jatuh ke tangan Tsabit bin Qais sebagai tawanan perang.

3. Pernikahan yang Memerdekakan

Juwairiyah mendatangi Rasulullah SAW untuk meminta bantuan menebus kebebasannya (mukatabah) karena ia merasa berat dengan beban sembilan keping emas yang ditetapkan oleh Tsabit. Melihat kemuliaan hatinya, Rasulullah menawarkan sesuatu yang lebih baik: beliau sendiri yang membayar tebusan tersebut dan kemudian menikahinya.

Pernikahan ini membawa dampak luar biasa. Mendengar kabar tersebut, para sahabat merasa tidak pantas menjadikan kerabat Nabi sebagai budak. Akhirnya, sekitar 100 keluarga Banil-Musthaliq dibebaskan secara sukarela oleh para sahabat. Tak lama kemudian, ayah Juwairiyah pun masuk Islam setelah melihat mukjizat Nabi yang mengetahui lokasi unta tebusannya yang disembunyikan.

4. Kehidupan di Rumah Tangga Nubuwwah

Setelah menikah, Rasulullah mengganti namanya dari Burrah menjadi Juwairiyah. Beliau dikenal sebagai istri yang sangat tekun beribadah. Sebuah riwayat menyebutkan bahwa Juwairiyah sering menghabiskan waktu dari fajar hingga dhuha untuk berzikir. Rasulullah kemudian mengajarkannya kalimat zikir yang timbangannya lebih berat dan mulia agar ibadahnya semakin sempurna.

5. Masa Tua dan Wafatnya

Sepeninggal Rasulullah SAW, Juwairiyah menjauhkan diri dari hiruk-pikuk politik dan konflik fitnah di masanya. Beliau fokus beribadah serta aktif bersedekah menggunakan tunjangan dari Baitul-Mal. Juwairiyah wafat pada usia 60 tahun di masa kekhalifahan Mu’awiyah bin Abu Sufyan dan dimakamkan di Baqi’ bersama istri-istri Nabi lainnya.

Baca Juga Istri-Istri Nabi Muhammad SAW

0 komentar :

Posting Komentar

Terima Kasih (Sukur Moanto')

Select Language

Kata Bijak

Galery-Ku









@YendiCo. Diberdayakan oleh Blogger.