'
::: SELAMAT HARI BUKU SEDUNIA : JIKA PENDIDIKAN KEWAJIBAN SEPANJANG ZAMAN, MAKA BUKU MERUPAKAN KARYA WARISAN TAK TERMAKAN ZAMAN :::
SELAMAT HARI BUKU SEDUNIA :::TPP BERDEDIKASI UNTUK NEGERI
Depan » » Ummu Habibah binti Abu Sufyan

Ummu Habibah binti Abu Sufyan

Ummu Habibah memiliki nama asli Ramlah binti Abu Sufyan. Ia lahir sekitar 13 tahun sebelum masa kenabian. Ia tumbuh sebagai wanita yang cerdas, fasih berbicara, dan memiliki pendirian yang kuat. Secara nasab, ia adalah putri dari Abu Sufyan, pemimpin kaum Quraisy yang saat itu merupakan musuh utama dakwah Islam, dan masih berkerabat dengan Utsman bin Affan melalui ibunya.


Ujian Iman di Habasyah

Ramlah menikah dengan Ubaidillah bin Jahsy. Keduanya termasuk golongan awal yang memeluk Islam dan memutuskan untuk hijrah ke Habasyah guna menghindari siksaan kaum kafir Quraisy. Namun, di tanah perantauan tersebut, Ramlah menghadapi ujian yang sangat berat:

  • Suaminya Murtad: Ubaidillah meninggalkan Islam dan berpindah ke agama Nasrani.

  • Kehilangan Suami: Ubaidillah menjadi pecandu minuman keras hingga akhirnya meninggal dunia dalam keadaan di luar Islam.

  • Keterasingan: Ramlah terjepit dalam situasi sulit. Ia tidak mungkin kembali ke Mekah karena ayahnya masih memusuhi Islam, namun ia juga hidup sebatang kara di negeri asing bersama bayinya, Habibah.

Pernikahan dengan Rasulullah ﷺ

Allah Swt. membalas kesabaran Ummu Habibah dengan kemuliaan. Rasulullah ﷺ yang mendengar penderitaannya di Habasyah merasa iba dan mengirim utusan untuk melamarnya.

  • Pernikahan Jarak Jauh: Raja Najasyi bertindak sebagai fasilitator pernikahan ini di Habasyah.

  • Menjadi Ummul Mukminin: Ramlah pun resmi menjadi istri Nabi. Hal ini tidak hanya mengangkat derajatnya, tetapi juga menjadi "pukulan diplomatik" bagi ayahnya, Abu Sufyan, yang kemudian melunakkan permusuhannya terhadap Islam.

Keteguhan Iman terhadap Ayah

Salah satu momen paling ikonik dalam hidupnya adalah saat Abu Sufyan datang ke Madinah untuk memperbarui Perjanjian Hudaibiyah. Abu Sufyan mengunjungi rumah putrinya, namun Ummu Habibah dengan tegas melipat alas duduk (tikar) milik Rasulullah agar tidak diduduki ayahnya. Ia beralasan bahwa ayahnya adalah seorang musyrik yang najis secara akidah, sehingga tidak pantas duduk di atas alas milik Nabi. Ketegasan ini menunjukkan bahwa cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya melampaui segalanya.

Masa Tua dan Wafat

Setelah Rasulullah ﷺ wafat, Ummu Habibah menghabiskan waktunya untuk beribadah dan menjauhi konflik politik (fitnah) yang terjadi di antara umat Islam. Meskipun saudaranya, Mu’awiyah, menjadi khalifah, ia tidak memanfaatkan posisi tersebut untuk kepentingan duniawi.

Ummu Habibah dikenal sebagai periwayat hadis yang setia mengamalkan sunnah, salah satunya adalah keutamaan shalat sunnah 12 rakaat sehari semalam. Beliau wafat pada tahun 44 Hijriah di usia 70 tahun dan dimakamkan di pemakaman Baqi, Madinah.


Intisari: Kisah Ummu Habibah adalah simbol keteguhan iman seorang wanita yang rela kehilangan keluarga dan tanah air demi mempertahankan keyakinannya, yang kemudian berbuah kemuliaan sebagai Ibu bagi orang-orang beriman.

Baca Juga Istri-Istri Nabi Muhammad SAW

 

0 komentar :

Posting Komentar

Terima Kasih (Sukur Moanto')

Select Language

Kata Bijak

Galery-Ku









@YendiCo. Diberdayakan oleh Blogger.