'
::: SELAMAT HARI BUKU SEDUNIA : JIKA PENDIDIKAN KEWAJIBAN SEPANJANG ZAMAN, MAKA BUKU MERUPAKAN KARYA WARISAN TAK TERMAKAN ZAMAN :::
SELAMAT HARI BUKU SEDUNIA :::TPP BERDEDIKASI UNTUK NEGERI
Depan » » Zainab binti Muhammad

Zainab binti Muhammad


Zainab adalah putri tertua Rasulullah
SAW dan Khadijah binti Khuwaylid. Sebelum masa kenabian, ia menikah dengan sepupunya sendiri, Abul Ash bin Rabi', yang merupakan putra dari Halah (saudara perempuan Khadijah). Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai dua anak, Ali (yang wafat saat kecil) dan Umamah (yang kelak menikah dengan Ali bin Abi Thalib setelah Fatimah wafat).

Saat wahyu turun, Zainab segera memeluk Islam mengikuti jejak ibunya. Namun, suaminya tetap pada agama nenek moyangnya (musyrik). Meski berbeda keyakinan, Abul Ash menolak tekanan kaum Quraisy untuk menceraikan Zainab karena rasa cinta dan hormatnya.

Ujian Perpisahan dan Tebusan Kalung

Setelah Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, Zainab masih tinggal di Mekkah bersama suaminya. Ketegangan memuncak saat Perang Badar, di mana Abul Ash ikut bertempur di pihak Quraisy dan akhirnya tertawan oleh pasukan Muslim.

Untuk membebaskan suaminya, Zainab mengirimkan satu-satunya harta berharga miliknya: seuntai kalung batu onyx Zafar, pemberian mendiang ibunya, Khadijah, saat pernikahannya. Melihat kalung tersebut, Rasulullah SAW sangat terharu karena teringat akan Khadijah. Atas kesepakatan para sahabat, Abul Ash dibebaskan dan kalung itu dikembalikan kepada Zainab dengan syarat Abul Ash harus membiarkan Zainab pergi ke Madinah.

Perlindungan dan Kembalinya Abul Ash

Zainab kemudian berhijrah ke Madinah dan hidup terpisah dari suaminya selama bertahun-tahun karena perbedaan keyakinan. Menjelang Penaklukan Mekkah (Fathu Makkah), Abul Ash yang sedang berdagang kembali tertangkap oleh pasukan Muslim pimpinan Zaid bin Haritsah.

Secara diam-diam, Abul Ash menemui Zainab untuk meminta perlindungan. Saat shalat Subuh, Zainab mengumumkan di depan masjid bahwa ia telah memberikan perlindungan kepada Abul Ash. Rasulullah SAW menghormati keputusan putrinya namun tetap mengingatkan bahwa mereka belum halal sebagai suami istri. Atas anjuran Nabi, harta dagangan Abul Ash dikembalikan oleh para sahabat. Sikap mulia ini menyentuh hati Abul Ash; setelah mengembalikan semua amanah harta penduduk Mekkah, ia akhirnya menyatakan masuk Islam dan menyusul ke Madinah.

Akhir Hayat

Setelah enam tahun berpisah, Rasulullah SAW menyatukan kembali Zainab dan Abul Ash berdasarkan pernikahan mereka yang pertama. Namun, kebersamaan mereka di jalan Islam tidak berlangsung lama. Pada tahun 8 Hijriyah, Zainab wafat.

Jenazahnya dimandikan oleh para sahabat wanita seperti Ummu Athiyah dan Saudah binti Zam'ah dengan instruksi langsung dari Rasulullah SAW mengenai tata cara yang baik (menggunakan air bidara, jumlah ganjil, dan dimulai dari sisi kanan). Sebagai bentuk kasih sayang terakhir, Nabi memberikan kain selimut miliknya untuk dijadikan kain kafan bagi putri tercintanya tersebut.


Intisari: Kisah Zainab adalah bukti bahwa meski cinta manusia sangat kuat, cahaya keimanan adalah pengikat yang paling hakiki. Kesetiaan dan keteguhan hatinya akhirnya membawa sang suami menuju hidayah Islam.

Baca Juga Putra-Putri Nabi Muhammad SAW

  1. Al-Qosim bin Muhammad
  2. Zainab binti Muhammad
  3. Ruqayyah binti Rasulullah
  4. Ummu Kultsum binti Muhammad
  5. Fatimah Az-Zahra binti Rasulullah
  6. Abdullah (On Proccess)
  7. Ibrahim (On Proccess)

0 komentar :

Posting Komentar

Terima Kasih (Sukur Moanto')

Select Language

Kata Bijak

Galery-Ku









@YendiCo. Diberdayakan oleh Blogger.