Pernikahan yang Penuh Hikmah
Rasulullah SAW menikahi Saudah bukan karena alasan fisik (kecantikan) atau harta, melainkan sebagai bentuk penghormatan dan perlindungan.
Latar Belakang: Setelah Khadijah wafat, Rasulullah mengalami masa-masa sulit ("Tahun Kesedihan"). Khaulah binti Hakim mengusulkan Saudah sebagai pendamping untuk mengurus rumah tangga dan putri-putri Nabi (Fatimah dan Ummu Kultsum).
Sosok Saudah: Saat dinikahi, Saudah adalah seorang janda dari Syukran bin Amr. Ia bertubuh tinggi besar, sudah berumur, dan bukan dari kalangan kaya.
Tujuan Mulia: Pernikahan ini bertujuan untuk memuliakan keteguhan iman Saudah yang telah berjuang dan berhijrah demi Islam, serta membantu meringankan beban rumah tangga Rasulullah.
Perjuangan dan Kesabaran
Perjalanan hidup Saudah penuh dengan pengorbanan:
Hijrah ke Habasyah: Ia dan suami pertamanya mengalami penyiksaan dari kaum Quraisy hingga harus mengungsi ke Habasyah (Ethiopia).
Ujian Menjanda: Suaminya wafat dalam perjalanan kembali dari Habasyah. Saudah harus kembali ke Mekah dengan status janda dan tinggal bersama ayahnya yang saat itu belum masuk Islam.
Hijrah ke Madinah: Saudah menyertai putri-putri Nabi melakukan hijrah kedua menuju Madinah untuk membangun tatanan hidup yang baru.
Karakter dan Keistimewaan
Saudah memiliki sifat-sifat yang patut menjadi teladan bagi muslimah:
Humoris dan Menyenangkan: Meski tampak bersahaja, Saudah sering melontarkan candaan ringan yang membuat Rasulullah tertawa, sehingga mampu menghibur duka beliau.
Sangat Dermawan: Beliau dikenal zuhud (tidak silau dunia). Pernah suatu kali ia menerima sekantong dirham dari Khalifah Umar, namun langsung membagikannya kepada orang miskin hingga habis.
Rendah Hati & Tidak Cemburu: Saudah sangat mencintai Aisyah. Menyadari dirinya sudah lanjut usia, ia dengan ikhlas memberikan jatah malamnya kepada Aisyah demi menjaga keridaan hati Rasulullah.
Taat pada Perintah Nabi: Setelah haji Wada, ia sangat menjaga diri dan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sesuai pesan Rasulullah untuk para istrinya.
Akhir Hayat
Saudah menghabiskan sisa hidupnya dengan beribadah secara khusyuk. Sebagian riwayat menyebutkan beliau wafat pada tahun ke-19 Hijriah di akhir masa kekhalifahan Umar bin Khattab, namun pendapat lain yang cukup kuat menyebutkan beliau wafat pada tahun 54 Hijriah di Madinah. Sebelum wafat, ia mewariskan rumahnya kepada Aisyah sebagai bentuk kasih sayang.
Kesimpulan: Saudah binti Zam’ah adalah simbol kesetiaan dan keikhlasan. Beliau membuktikan bahwa kemuliaan seorang wanita di mata Allah tidak terletak pada rupa atau harta, melainkan pada pengabdian yang tulus dan keteguhan iman dalam menghadapi badai kehidupan.


0 komentar :
Posting Komentar
Terima Kasih (Sukur Moanto')